RSS

Mahasiswa HARUS Kreatif

10 Oct

Menurut saya, kreativitas itu tidak ada batasnya. Kreativitas juga tidak ada benar dan salah. Kreativitas bisa memiliki pandangan berbeda bagi semua orang. Tapi yang jelas, kreativitas menghasilkan inovasi. Dan bagi kami, para mahasiswa, menjadi kreatif itu suatu keharusan. Mahasiswa adalah tingkatan terakhir dalam dunia pendidikan. Dengan kata lain, ketika kita masih mahasiswa, gunakan waktu semaksimal mungkin untuk berkreasi untuk menciptakan inovasi.

Bagi para mahasiswa teknik, kreativitas yang dimiliki mungkin tidak semuanya dari bawaan lahir. Tapi dengan adanya kemauan untuk membuat suatu inovasi didukung dengan pelajaran yang telah mereka pelajari di kampus, mereka bisa membuat suatu inovasi. Untuk mereka yang tidak memiliki kreativitas sedari lahir, bisa dilatih terus kreativitasnya dan bisa mencapai level 2 kreativitas, yaitu mempelajari kreativitas dan mengembangkannya dengan cara mereka sendiri. Contohnya untuk mahasiswa teknik mesin, mereka bisa berinovasi dengan membuat mobil yang hemat bahan bakar, atau mobil yang bisa menggunakan tenaga surya. Nothing impossible. Untuk mahasiswa matematika, mungkin bisa meniru jejak paman Apiq dengan membuat kreatif matematika, yang bisa memaksa anak-anak untuk mau belajar matematika. Tapi untuk kebanyakan mahasiswa seni rupa, mereka harusnya merasa beruntung, karena mereka dianugerahi kreatifitas sejak lahir. Mereka bisa langsung dikategorikan masuk level 3 kreativitas, karena mereka memiliki ciri khas dalam kreasi mereka dan mengembangkannya dengan cara yang biasa. Tapi kalau terus kreativitasnya terus diasah, mereka bisa sampai level 5, di mana karyanya sulit diterjemahkan dengan mata telanjang. Hanya seniman saja yang bisa mengerti.

Bagi mahasiswa bisnis seperti saya, tidak menutup kemungkinan untuk berkreasi dan berinovasi. Contohnya seperti yang telah kami lalui, yaitu IBE. Kami dituntut untuk membuat inovasi produk baru. Inovasi memiliki 4 level. Level pertama adalah level yang paling simple. Bisa dilakukan oleh semua orang. Inovasinya hanya sekedar mengubah sedikit tampilan dari produk yang sudah ada. Misalnya mengubah warna packaging, mengubah bentuk logo, mengubah gambar, dll. Inovasi ini dilakukan jika sudah benar-benar dalam keadaan terjepit saja. Level kedua adalah menambahkan feature tambahan yang bisa menambah daya tarik dari suatu produk. Level pertama dan kedua ini resikonya sangat kecil, karena tidak banyak memberikan perubahan pada suatu produk. Berbeda dengan level ketiga yang telah memperhitungkan resiko yang mungkin terjadi, jadi lebih berhati-hati dalam menciptakan inovasi. Pada level ini kita harus melakukan research yang mendalam, supaya tidak salah target market. Level keempat adalah inovasi paling luar biasa yang bisa mengubah taraf hidup manusia. Seperti penemuan kereta api, penemuan mobil, lampu, dll. Sebagai mahasiswa, kita bisa berinovasi sampai level 3. Kita sudah memiliki bekal perhitungan resiko, tinggal melakukan research yang benar untuk mencapai target sehingga tidak akan mengalami kerugian.

 

Peluang yang ada untuk mahasiswa berkreasi dan berinovasi sebenarnya sangat banyak. Dari kegiatan kampus seperti ITB Fair yang mengharuskan para mahasiswa membuat sesuatu yang berbeda setiap tahunnya. Tidak hanya kegiatan dalam kampus, tetapi juga kegiatan luar kampus seperti komunitas-komunitas anak muda di Bandung seperti akademi berbagi yang selalu membuka kesempatan bagi para mahasiswa untuk belajar tentang kreativitas. Sebenarnya banyak komunitas-komunitas kreatif di kota Bandung, tapi mungkin kurang terekspos oleh publik.

Kreativitas bisa datang di mana saja dan kapan saja. Bisa dengan bergaul dengan banyak orang, jadi kepikiran sebuah ide. Bisa dengan banyak membaca buku, juga browsing internet. Tapi satu yg saya percaya, kreativitas itu tidak bisa dipaksakan. Dalam keadaan terjepit, untuk beberapa orang malah bisa semakin kreatif, tapi untuk sebagian orang, sulit sekali menjadi kreatif di saat-saat sulit. Saya sendiri termasuk anak yang bisa kreatif di saat terjepit. Orang-orang bilang kreativitas saya itu termasuk sebuah kelicikan. Haha… gak apa-apa yang penting kreatif. *maksa*

Mahasiswa itu sebenarnya bisa menjadi makhluk yang maha kreatif. Tapi masih saja ada hambatannya. Yang pertama adalah perasaan takut ditolak. Sebenarnya banyak ide-ide kreatif, tapi kebanyakan dari kami takut mengungkapkannya. Perasaan takut dihina atau dikatain itu menjadi faktor mental yang sulit dikalahkan. Memang sudah jadi kebiasaan orang Indonesia yang susah banget untuk menghargai orang lain. Penilaiannya sangat subjektif. Sekali gak suka sama orangnya, selamanya gak suka sama apapun yang dia lakukan. Akhirnya kami pun lebih memilih diam dan menyimpan ide-ide kreatif itu hanya untuk diri kami sendiri.

Maka sebaiknya sudah dibiasakan sejak dini untuk para mahasiswa mengungkapkan idenya. Tapi bukan hanya mengungkapkan, tapi berani merealisasikannya juga. Mungkin di mata publik mahasiswa itu hanya kumpulan anak muda yang hanya bisa bicara saja tanpa berpikir. Tapi kita harus buktikan bahwa mahasiswa itu bisa membuat ide yang bisa dipertanggungjawabkan.

Yang kedua adalah masalah waktu. Mahasiswa itu harus benar-benar pandai mengatur waktu. Dosen tidak seperti guru sekolah yang bisa memberi toleransi. Kalau dosen mau ngasih tugas saat UTS, itu hak beliau. Tidak seperti guru yang bisa ‘ditawar’ supaya tugasnya dikurangi. Untuk ikut kegiatan organisasi saja kami masih harus curi-curi waktu atau bahkan mengambil jatah waktu untuk tidur. Malah ada mahasiswa yang lebih mengutamakan kegiatan organisasinya daripada akademiknya saking mereka sangat suka bergaul dan bekerja dalam kelompok.

Masalah waktu sebenarnya tergantung niat. There is a will, there is a way. Kalau kita mau, kita pasti bisa kok. Memang ada waktunya di mana kita benar-benar ingin bersantai tanpa melakukan apa-apa. Tapi sebagai anak muda, sebaiknya manfaatkan waktu semaksimal mungkin. Daripada hanya guling-guling di kasur, lebih baik kita memanfaatkan waktu untuk menghasilkan sesuatu yang berguna.

Kurangnya fasilitas yang bisa mendukung realisasi dari inovasi mahasiswa. Kami biasa dianggap masih kecil dan belum bisa bertanggung jawab penuh pada keputusan kami. Maka kebanyakan orang tidak mau mempercayai ide-ide yang kami anggap ide brilian dan tidak mau memberikan fasilitas yang memadai untuk kami. Usia kami yang memang masih muda, sering membuat ide-ide yang muncul dari teman atau kerabat menjadi tidak terlalu diperhitungkan. Ego diri lebih besar daripada apapun. “Ide saya yang paling bagus” sering ada di pikiran. Hal ini yang menghambat terealisasinya sebuah ide, karena ada pihak yang tidak setuju dengan pihak tersebut. Sedangkan untuk merealisasikannya sendiri pun kami tidak bisa.

Sebaiknya mulai dari sekarang kita lebih berpikiran terbuka. Terbuka untuk menerima ide-ide baru. Terbuka dengan masukan dari orang lain. Sekarang sudah zaman demokrasi, siapa saja boleh berpendapat, siapa saja bisa jadi pemimpin. Tidak terbatas gender atau usia. Sering sekali para senior meremehkan juniornya. Sebaiknya para senior lebih memberi kesempatan untuk yg muda yg berkarya.

Seperti yang ditulis dalam buku The World is Flat karya Thomas L. Friedman. Disitu dituliskan bahwa ada 10 peristiwa besar di dunia yang membuka pikiran kita dan mengubah dunia. Dunia ini datar maksudnya sudah tidak ada batasan-batasan lagi untuk berkarya. Siapa saja dan dari kalangan mana saja bisa berkreasi.

 

Dwi Maya Subianto

19009095

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 10, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: